Terbakar Karena Berita

May 22, 2017 § Leave a comment

Untuk meliput kejadian kemudian membuatnya menjadi berita tentu ada harganya. Ada personil yang terjun ke lapangan mencari narasumber, ada bagian yang menyunting kata-kata, hingga orang-orang yang mencetak berita tersebut ke media cetak.

Memiliki media cetak dengan jaringan yang luas juga membutuhkan biaya besar. Ada alat-alat produksi terlibat disana pun dengan jejaring logistik bekerja setiap hari mengantar berita-berita tersebut ke agen-agen penjualan hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca.

Betul bahwa media pada waktu itu tidak sepenuhnya menggantungkan pendapatan dari oplah. Ada pendapatan dari iklan dan lain-lain disana. Tapi, kali ini bukan itu yang dibahas.

« Read the rest of this entry »

Dongeng tentang Indonesia?

April 27, 2017 § Leave a comment

“Jika ini dongeng, berarti dia tidak lagi ada”, Indonesia 2017

Dahulu kala ada sebuah negeri bernama Indonesia. Tanahnya subur menghasilkan beragam hasil bumi yang dicari banyak orang. Kudengar bahkan ada pedagang yang rela datang dari negeri nun jauh di sebelah barat sana. Lautnya? Hmm, tenang. Begitu tenang hingga kau tak perlu khawatir perahumu dirajam ombak. Ah semuanya bagai surga, apalagi jika kau sempat tengok senyum gadis-gadisnya, aduhai manisnya. Tak menjadi soal lagi apakah surga itu nanti ada setelah mati.

Coba kau lihat di peta. Perhatikan betapa luas wilayahnya. Kau ini terbang 3 jam di Eropa sana sudah berkali-kali kau lintasi garis batas, tapi disana di negeri itu, 3 jam kau terbang masih saja kau disana. Alamak luasnya! Butuh berapa tahun kau habiskan untuk coba mengunjungi setiap pulau yang ada? Butuh berapa generasi kau lihat untuk mempelajari setiap bahasa daerahnya?

« Read the rest of this entry »

Tentang Pengambilan Keputusan Dalam Rumah Tangga

February 19, 2017 § Leave a comment

“Taruh semua fakta di atas meja. Kita bahas bersama!”, Bekasi 2017.

Banyak yang bilang kalau keluarga adalah entitas politik paling kecil yang dimiliki oleh negara.  Apa yang terjadi di sebuah negara tidak mungkin lepas dari apa yang terjadi di keluarga-keluarga di negara tersebut. Apakah keluarganya harmonis? Apakah keluarga mendukung anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang? Apakah terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Dan ribuan pertanyaan lain.

Sebelum saya dan istri menikah, kami cukup serius membahas berbagai aspek yang ada dalam kehidupan kami kelak. Kami sadar, kami datang dari dua kultur keluarga yang berbeda. Tentu segala didikan yang kami dapat pun akan berbeda. Meskipun kami pernah satu atap di sekolah, itu pun kecil sekali pengaruhnya untuk membuat segalanya menjadi sama. Jadi alih-alih kami hanya berputar-putar di usaha mencari segala kesamaan, kami juga melihat apakah ada potensi konflik yang muncul dari adanya perbedaan.

« Read the rest of this entry »

[CERPEN] Kaum Terkutuk

July 14, 2016 § Leave a comment

20 tahun yang lalu, perang akhir pun usai sudah. Waktu itu, milyaran orang mati memaksakan ide-ide dan kepentingan-kepentingan mereka atas satu sama lain. Entah apa maksudnya. Aku begini karena tahu bahwa tak ada guna ideku dipaksakan jika aku akhirnya mati. Jadi aku memilih diam, menonton mereka saling bunuh, saling tikam. Tapi di hati kecil ini, aku masih berharap bukan mereka mereka yang menang. Ya begitu, di perang akhir kaumku kalah. Aku pengecut. Lengkap sudah. Semoga kelak aku nanti mati dalam keadaan damai.

Dunia dibawah kekuasaan kaum pembunuh Tuhan berubah begitu cepat, hampir-hampir tak dapat aku mengikuti. Seingatku dulu aku masih mengetik menggunakan laptop keluaran Taiwan yang terkenal itu. Masih ingat tidak? Akupun ragu apakah masih mengingat seperti apa bentuknya. Saat ini, semua orang memiliki komputer tambahan di dalam otaknya masing. Mengetik? Huh, itu kuno. Hanya dengan berpikir saja kami sudah bisa membuat ratusan kata tersimpan di memori. Mau kirim data? Tinggal pikirkan saja, otomatis terkirim. Semuanya serba dipikir. Jemari ini tak begitu lagi berguna. Mati saja.

« Read the rest of this entry »

Sedikit Gagal Paham

March 22, 2015 § Leave a comment

Bersyukur hidup di Indonesia cuman pusing sedikit kejar-kejaran pendapatan sama kenaikan inflasi. Ga kebayang kalau hidup di daerah konflik macam sebagian Afrika dan Timur Tengah, harus kejar-kejaran sama mesin pencabut nyawa.
Sedikit gagal paham sama motif sebagian orang jauh-jauh pergi ke daerah konflik. Mungkin hidupnya saat ini kurang tantangan, atau sudah menyerah sehingga mencoba “menyapa” Tuhan?

Ibu jahat! (sebuah analogi)

January 6, 2015 § Leave a comment

“Daripada ibu kasih uang jajan kamu terus nak lebih baik uangnya ibu simpan ya. Kelak uang simpanan ini nanti bisa membiayai pendidikan kamu sehingga nantinya kamu bisa cari uang sendiri”, Ucap lirih seorang ibu kepada anaknya.
“Ibu jahat!”, Teriak si anak kepada ibunya.
Dibantingnya begitu keras pintu kamar.

Where Am I?

You are currently browsing the Politic category at Sumo Aji.