Undur diri

October 9, 2015 § Leave a comment

“Jika ini sudah terlalu ramai, kenapa mereka takut dengan sepi?”, Jakarta, Di tengah keramaian.

Dunia ini terlalu banyak “noise”. Mengundurkan diri sejenak bahkan sekarang jadi barang mahal. Dibayar dengan harga kekhawatiran “besok mau makan apa? besok mau selfie dimana?”. Semua soal kekhawatiran.

Sesekali iseng berbisik kepada bayi-bayi yang baru saja lahir, “Kamu sudah mantap mau hidup?”. Lalu bayi-bayi itupun tertawa, lalu menangis. Hahahahahahaha lucu rasanya. Mereka yang sudah berjuang mati-matian untuk menjadi hidup, menjadi manusia, malah ditanya pertanyaan seperti itu ya sudah barang tentu mereka menangis.

Lalu timbul sebuah pertanyaan kembali. Apakah memang disana begitu sepi sehingga mereka berjuang mencari ramainya dunia ini?. Dan, sejatinya apakah ketika kita mengundurkan diri sejenak, kita sedang kembali ke masa-masa dimana kita masih berada di rumah asal?

Rindu.

Judging

July 13, 2015 § Leave a comment

god

God himself, sir, does not propose to judge man until the end of his days.

Now. Who am I to judge?

Rindu jadi manusia (utuh)

November 2, 2013 § Leave a comment

Tak usah mengeluh. Sudah terima saja. Kamu ndak mungkin mengharap burung-burung itu mau berkicau. Lihat langitnya, kelam. Hirup saja udaranya, sesak. Lagipula kamu ini tinggal dibalik beton. Bagaimana bisa?

Oh atau kamu rekam saja suara mereka lalu putar setiap pagi, setiap saat kalau perlu, sampai kamu lupa, lupa kalau kamu ini manusia.

Cicitcuit…….¬†Cicitcuit……

Indah bukan?

Where Am I?

You are currently browsing the Poems category at Sumo Aji.