Pilihan Jawaban

August 8, 2017 § Leave a comment

Sewaktu kecil, salah satu pengalaman bahagia adalah ketika diajak oleh kedua orang tua pergi ke tempat yang sama sekali baru. Tempat baru artinya banyak melihat hal baru. Kendaraan, orang-orang, jajanan, dan benda-benda “asing” yang belum tersimpan di memori sebelumnya.

Bapak dan ibu dengan cukup sabar menjawab menjawab pertanyaan-pertanyaan polos yang keluar dari mulut mungil ini, “Ibu, itu mobil apa? Bapak, kenapa mobilnya bisa jalan?” Dan segudang pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab tidak langsung menuju ke kesimpulan, seringkali justru dijawab dengan pertanyaan kembali.

Tentu saja tidak setiap saat bapak dan ibu bisa sabar dibombardir pertanyaan-pertanyaan “remeh” seperti itu. Terkadang terselip jawaban balasan seperti : “Kenapa sih tanya kenapa terus?” Atau, mereka hanya diam. Iya, diam saja.

Tapi ini yang menarik, bawasannya pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah salah satu cara manusia berproses, belajar. Dan bagaimana memilih untuk merespon pertanyaan tersebut bisa menentukan kelak bagimana pola berpikir si anak kedepannya.

Bisa dibayangkan bagaimana jika rasa penasaran dibalas dengan jawaban seperti, “Ayo, coba kita cari tahu kenapa mobil bisa berjalan.”

Gembira.

***

Kemudian terdengar sayup-sayup seorang ibu di seberang sana berkata kepada anaknya, “Mobil bisa berjalan karena takdir nak. Semua sudah digariskan.”

***

Ya, (sialnya) lagi-lagi itu pilihan.

Advertisements

Tentang Pengambilan Keputusan Dalam Rumah Tangga

February 19, 2017 § Leave a comment

“Taruh semua fakta di atas meja. Kita bahas bersama!”, Bekasi 2017.

Banyak yang bilang kalau keluarga adalah entitas politik paling kecil yang dimiliki oleh negara.  Apa yang terjadi di sebuah negara tidak mungkin lepas dari apa yang terjadi di keluarga-keluarga di negara tersebut. Apakah keluarganya harmonis? Apakah keluarga mendukung anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang? Apakah terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Dan ribuan pertanyaan lain.

Sebelum saya dan istri menikah, kami cukup serius membahas berbagai aspek yang ada dalam kehidupan kami kelak. Kami sadar, kami datang dari dua kultur keluarga yang berbeda. Tentu segala didikan yang kami dapat pun akan berbeda. Meskipun kami pernah satu atap di sekolah, itu pun kecil sekali pengaruhnya untuk membuat segalanya menjadi sama. Jadi alih-alih kami hanya berputar-putar di usaha mencari segala kesamaan, kami juga melihat apakah ada potensi konflik yang muncul dari adanya perbedaan.

« Read the rest of this entry »

Hampir Saja

February 11, 2017 § Leave a comment

“Cukup sekali. Engga lagi”, Solo 2016.

Pernah check in awal untuk naik pesawat. Karena delay, ya minggirlah agak jauh dari pintu masuk sebelum ke garbarata. Sambil menunggu, gw baca buku yang  gw bawa waktu itu.
Beberapa jam kemudian disamperin petugas, “Bapak ke Jakarta? Penerbangan xxx?”.
“Iya”, Jawab gw polos.
“Aduh bapak tadi kita panggil2 kenapa ga segera masuk. Pesawat udah mau take off”. Dalam hati apa iya ada suara panggilan hahaha, gw ga denger sama sekali.
Larilah gw segera ke pesawat. Sampai di dalam pesawat, cuman kursi gw yang kosong berarti gw orang terakhir yang naik itu pesawat.
Elu tau rasanya diliatin tatapan nanar orang2 yang udah kena delay berjam2 masih ditahan2 pula take off gara2 1 penumpang ilang dan penumpang itu elu?
Gw berasa itu ibu2 mau ngegiling gw jadi sosis Solo.

Where Am I?

You are currently browsing the Experience category at Sumo Aji.