Perjalanan Kita

February 23, 2018 § Leave a comment

2013 akhir. Awal masa saling mengenal.

“Apa mimpi-mimpimu yang belum tercapai?”, Tanyaku pada suatu malam.

“Mimpiku? Banyak”.

“Katakan! Satu hal yang paling penting menurutmu”, Desakku.

Kamu terdiam. Berpikir. Nampak keraguan muncul dari raut wajahmu. Aku tak berani mendesak, memilih diam. Sampai beberapa minggu kemudian perbincangan ini tidak lagi berlanjut. Kita lupa.

***

2014 awal. Awal masa aku diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh.

“Aku pernah ingin sekali mendapatkan beasiswa. Mendapatkan kesempatan mengenal budaya lain sekaligus belajar. Adikku pun pernah bilang kalau sebenarnya aku mampu”.

Aku tak ingat bagaimana responku terhadap kata-katamu waktu itu. Yang aku ingat adalah beberapa saat setelah itu aku mengajakmu melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kamu mau, dengan beberapa persyaratan.

Aku setuju.

***

2015 menjelang akhir. Sudah ada cincin melingkar di jari manismu, begitupun di jariku, jari yang sama.

“Kenapa tidak kamu kejar apa yang kamu cita-citakan?”, Aku mencoba membuka pembicaraan.

“Apa aku bisa?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana?”

“Kita rencanakan!”

Kamu mengangguk manis. Aku mencoba menjelaskan rencana kita ke depan. Setahun, dua tahun, tiga tahun, sepanjang yang kita bisa bayangkan.

***

Pertengahan 2016. Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku dan teman-teman terdekat mengantar keberangkatanmu.

“Jaga diri baik-baik. 6 bulan lagi aku berkunjung ke sana. Tidak perlu menangis.”

Tetapi, kamu tetap menangis.

Aku tidak. Setidaknya tidak terlihat menangis. Sulit rasanya melepas ini semua, meski hanya sementara.

Bapak dan Ibu mendidik anak-anaknya untuk menghormati keinginan seseorang meraih pendidikan setinggi-tingginya. Perempuan dan laki-laki, sama saja. Dengan alasan yang sama, aku terpaksa melepasmu kali ini.

***

2016 – 2017. Kamu di sana, aku di sini. Aku menikmati matahari lebih cepat 7 jam daripada kamu. Masa tersulit. Tapi buat apa orang lain tahu?

“Kita simpan masalah kita sendiri”, Begitu katamu.

***

2017 akhir. Bandara yang sama.

Aku memelukmu. Menggenggam tanganmu begitu erat. Aku bahkan lupa mengucapkan selamat datang kembali.

“Bisa?”

“Bisa apa, Mas?”

“Jadikan ini yang terakhir.”

***

2018 awal. Hari belum mulai benar.

“Now, you are truly a father!”, Katamu. No, I am not. Not yet.

“Yes, you will.”

“Really?”

“100%”, Kamu mencoba meyakinkan.

2 garis.

***

Ayo dek, kita lanjutkan cerita perjalanan ini.

 

Advertisements

Pilihan Jawaban

August 8, 2017 § Leave a comment

Sewaktu kecil, salah satu pengalaman bahagia adalah ketika diajak oleh kedua orang tua pergi ke tempat yang sama sekali baru. Tempat baru artinya banyak melihat hal baru. Kendaraan, orang-orang, jajanan, dan benda-benda “asing” yang belum tersimpan di memori sebelumnya.

Bapak dan ibu dengan cukup sabar menjawab menjawab pertanyaan-pertanyaan polos yang keluar dari mulut mungil ini, “Ibu, itu mobil apa? Bapak, kenapa mobilnya bisa jalan?” Dan segudang pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab tidak langsung menuju ke kesimpulan, seringkali justru dijawab dengan pertanyaan kembali.

Tentu saja tidak setiap saat bapak dan ibu bisa sabar dibombardir pertanyaan-pertanyaan “remeh” seperti itu. Terkadang terselip jawaban balasan seperti : “Kenapa sih tanya kenapa terus?” Atau, mereka hanya diam. Iya, diam saja.

Tapi ini yang menarik, bawasannya pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah salah satu cara manusia berproses, belajar. Dan bagaimana memilih untuk merespon pertanyaan tersebut bisa menentukan kelak bagimana pola berpikir si anak kedepannya.

Bisa dibayangkan bagaimana jika rasa penasaran dibalas dengan jawaban seperti, “Ayo, coba kita cari tahu kenapa mobil bisa berjalan.”

Gembira.

***

Kemudian terdengar sayup-sayup seorang ibu di seberang sana berkata kepada anaknya, “Mobil bisa berjalan karena takdir nak. Semua sudah digariskan.”

***

Ya, (sialnya) lagi-lagi itu pilihan.

Tentang Pengambilan Keputusan Dalam Rumah Tangga

February 19, 2017 § Leave a comment

“Taruh semua fakta di atas meja. Kita bahas bersama!”, Bekasi 2017.

Banyak yang bilang kalau keluarga adalah entitas politik paling kecil yang dimiliki oleh negara.  Apa yang terjadi di sebuah negara tidak mungkin lepas dari apa yang terjadi di keluarga-keluarga di negara tersebut. Apakah keluarganya harmonis? Apakah keluarga mendukung anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang? Apakah terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Dan ribuan pertanyaan lain.

Sebelum saya dan istri menikah, kami cukup serius membahas berbagai aspek yang ada dalam kehidupan kami kelak. Kami sadar, kami datang dari dua kultur keluarga yang berbeda. Tentu segala didikan yang kami dapat pun akan berbeda. Meskipun kami pernah satu atap di sekolah, itu pun kecil sekali pengaruhnya untuk membuat segalanya menjadi sama. Jadi alih-alih kami hanya berputar-putar di usaha mencari segala kesamaan, kami juga melihat apakah ada potensi konflik yang muncul dari adanya perbedaan.

« Read the rest of this entry »

Hampir Saja

February 11, 2017 § Leave a comment

“Cukup sekali. Engga lagi”, Solo 2016.

Pernah check in awal untuk naik pesawat. Karena delay, ya minggirlah agak jauh dari pintu masuk sebelum ke garbarata. Sambil menunggu, gw baca buku yang  gw bawa waktu itu.
Beberapa jam kemudian disamperin petugas, “Bapak ke Jakarta? Penerbangan xxx?”.
“Iya”, Jawab gw polos.
“Aduh bapak tadi kita panggil2 kenapa ga segera masuk. Pesawat udah mau take off”. Dalam hati apa iya ada suara panggilan hahaha, gw ga denger sama sekali.
Larilah gw segera ke pesawat. Sampai di dalam pesawat, cuman kursi gw yang kosong berarti gw orang terakhir yang naik itu pesawat.
Elu tau rasanya diliatin tatapan nanar orang2 yang udah kena delay berjam2 masih ditahan2 pula take off gara2 1 penumpang ilang dan penumpang itu elu?
Gw berasa itu ibu2 mau ngegiling gw jadi sosis Solo.

Where Am I?

You are currently browsing the Experience category at Sumo Aji.