Antara si Polos, si Baik, dan si Jahat

June 18, 2017 § Leave a comment

Menurut anda, berita mana yang lebih menarik. Seorang rakus yang melakukan korupsi atau seorang yang dalam kesehariannya terlihat baik-baik saja, bahkan nampak relijius, menjadi terdakwa kasus korupsi? Sebagian besar pasti menyatakan berita nomor dua lebih menarik.

Di linimasa kita berseliweran hal-hal seperti ini. Suatu kontradiksi tentu lebih menarik ketimbang sesuatu yang common sense. Jika dia memang rakus, apalagi penjahat, ya wajar saja suatu saat dia akan melakukan kejahatan tetapi jika dia seseorang yang saleh tentu menjadi menarik jika sampai melakukan hal bertentangan.

Respon dari informasi tersebut bermacam-macam. Tetapi yang menarik adalah kesimpulannya. Terlepas dari apakah si orang “baik” ini memang melakukan kejahatan atau tidak, jika masyarakat sampai pada kesimpulan bahwa menjadi relijius dengan segala atributnya menjadi tidak berguna tentu ini merepotkan orang-orang yang memang sungguh dengan kerelijiusitasannya hendak menyampaikan cara hidup yang baik.

Lalu bagaimana agar kita tidak terjebak dengan kesimpulan seperti itu tetapi sekaligus juga tetap kritis?

Salah satu atribut baik yang diakui masyarakat adalah kejujuran. Kita jujur maka kita dinilai baik. Kita tidak jujur maka dinilai tidak baik. Masyarakat juga mengakui bahwa korupsi adalah tindakan tidak jujur dan itu berarti korupsi adalah hal yang tidak baik.

Tukang becak di dekat rumah saya pikir tidak pernah melakukan kejahatan korupsi proyek dengan nilai milyaran Rupiah. Tetapi apakah saya bisa bilang bahwa dia adalah orang baik? Ingat, kita sedang menguji kejujuran sebagai salah satu atribut baik. Belum tentu ya, karena dia tidak memiliki kapasitas untuk melakukan itu. Dia tidak dalam posisi dan juga belum tentu memiliki pengetahuan untuk melakukan kejahatan luar biasa tersebut. Dalam kasus ini, saya dapat mengatakan bahwa dia adalah orang yang polos.

Bagaimana dengan pejabat yang menolak suap atau menggunakan anggaran memang sungguh untuk kemajuan daerahnya? Bagaimana dengan seorang pemimpin perusahaan menolak “bermain” dalam lelang proyek? Memegang jabatan kunci di perusahaan maupun pemerintahan merupakan salah satu ujian nyata. Jika ada manusia dengan segala pengetahuan serta kapasitasnya mampu menghalau segala tindak ketidakjujuran tersebut maka dalam hal ini orang tersebut bisa kita bilang orang baik. Jika mereka gagal, konsekuensi menunggu.

Nilai baik dihasilkan dari ujian. Semakin sulit dan dia berhasil melewati ujian tersebut maka nilai baik akan semakin besar. Orang baik adalah orang-orang yang tahu dan memiliki kapasitas untuk melakukan kejahatan tetapi dia memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Sedangkan, orang yang polos adalah orang yang tidak melakukan suatu kejahatan karena bisa jadi dia tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

Mereka sudah teruji sedang kita sendiri belum tentu. Jadi mulai dari sekarang jika kita menemukan orang seperti itu, hargai mereka, tiru mereka sehingga dunia kita menjadi lebih indah.

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara si Polos, si Baik, dan si Jahat at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: