Terbakar Karena Berita

May 22, 2017 § Leave a comment

Untuk meliput kejadian kemudian membuatnya menjadi berita tentu ada harganya. Ada personil yang terjun ke lapangan mencari narasumber, ada bagian yang menyunting kata-kata, hingga orang-orang yang mencetak berita tersebut ke media cetak.

Memiliki media cetak dengan jaringan yang luas juga membutuhkan biaya besar. Ada alat-alat produksi terlibat disana pun dengan jejaring logistik bekerja setiap hari mengantar berita-berita tersebut ke agen-agen penjualan hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca.

Betul bahwa media pada waktu itu tidak sepenuhnya menggantungkan pendapatan dari oplah. Ada pendapatan dari iklan dan lain-lain disana. Tapi, kali ini bukan itu yang dibahas.

Kemudian datanglah internet.

Datangnya internet memunculkan banyak peluang, salah satunya kemudahan manusia untuk berbagi termasuk berbagi informasi. Orang dengan mudah (dan bahkan gratis) menuliskan sesuatu lalu membagikan tulisan tersebut di blog atau website. Banyaknya kunjungan ke situs pada akhirnya pun juga menjaring minat para pengiklan. Dari sini, keuntungan didapat.

Sialnya, banyak situs yang tidak jelas darimana datangnya sumber cerita yang mereka beritakan. Pun, ternyata berita-berita tersebut juga tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada informasi jelas mengenai siapa yang memproduksi berita, siapa pemimpin redaksinya, dan lain-lain.

Sebagian masyarakat kita bahkan percaya dengan konten-konten tersebut. Tidak peduli dengan prosesnya, asal sesuai dengan hati ya share.

Sampai disini masih percaya situs abal-abal? Masih tidak mau membeli berita dari media-media arus utama?

Nanti dulu.

Coba ingat lagi polanya. Orang-orang membaca dan membagikan karena sesuai dengan hati. Semakin banyak yang suka, semakin banyak dibagikan atau dibeli.

Bagaimana jika ternyata media arus utama menggunakan pola yang sama? Meskipun sumber beritanya jelas, ada yang bertanggung jawab, ada kantor resminya tetapi apakah mereka tidak menggunakan framing sehingga akhirnya disukai dan dibeli? Atau bahkan menggunakan kekuatan jejaringnya untuk membentuk opini, membuat propaganda dan mendukung penguasa?

Pada akhirnya ini sama saja seperti perang. Perang bersenjatakan tulisan. Dan sama seperti perang-perang lainnya, selalu saja ada yang mati terinjak-injak. Mati karena dadanya terbakar oleh karena “berita” dari kubu sebelah.

Hehe…

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Terbakar Karena Berita at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: