Mencoba Menjawab “Siapa yang sesat?” dari Kacamata Penumpang Ojek Online

February 6, 2017 § Leave a comment

“Sesat itu kalau sedikit. Kalau banyak, itu berkat.”, Jakarta 2017.

Fenomena ojek online terjadi beberapa tahun belakangan ini. Masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar mulai diperkenalkan dengan layanan ojek panggilan via smartphone. Mudah, cukup install aplikasinya, daftar lalu langsung bisa menggunakan layanan. Berbagai jenis promo pun bertebaran datang dari para pemain di bidang ini, mencoba menggeser kebiasaan masyarakat para pengguna moda transportasi umum.

Munculnya layanan baru ini tentu tidak hanya semakin memberikan banyak opsi bagi masyarakat. Pilihan moda transportasi bertambah, kompetisi meningkat dan tentu saja customer menjadi diuntungkan. Tetapi, kemunculan layanan ini juga turut disertai dengan berbagai kontroversi mulai dari larangan penggunaan kendaraan beroda dua sebagai moda transportasi umum oleh Kementrian Perhubungan hingga penolakan yang datang dari penguasa status quo dari pemain sebelumnya, Ojek Pangkalan atau kita biasa singkat Opang.

Tengok saja spanduk-spanduk bertebaran di pinggir jalan, di ujung gang hingga di sudut-sudut perumahan. “Ojek online dilarang menarik penumpang di area ini” adalah kalimat yang paling sering muncul di spanduk-spanduk tersebut. Pertentangan ini tidak jarang berakhir hingga ke perkelahian fisik. Coba saja cari berita mengenai pengeroyokan terhadap para Ojek Online ini, sangat mudah terutama di awal-awal kemunculan mereka.

Siapa sih yang mau lahan mata pencahariannya direnggut orang? Atau, menggunakan bahasa bisnis, siapa sih yang mau kehilangan pangsa pasar? Ojek online jelas merenggut pasar pemain lama. Dengan kucuran dana seakan tak terbatas, pemain baru ini mampu “menurunkan” biaya operasional masyarakat pengguna. Pun dengan kemudahan yang ditawarkan, menjadi semakin membuat masyarakat menjatuhkan pilihan. Cara-cara seperti ini “sesat” karena tidak mengikuti kebiasaan “tata cara operasional” ojek-ojek sebelumnya. Mereka yang tidak terima (baca : tergusur) tentu melakukan perlawanan apalagi jumlah ojek online di awal-awal ini masih sedikit. “Kita ini banyak. Kita udah dari dulu disini”, Begitu kata mereka.

Munculnya penekanan terhadap kaum minoritas ojek online ini menimbulkan simpati juga hujatan. Pemerintah pun mendukung munculnya industri ini dengan membatalkan pelarangan ojek online oleh Menteri Perhubungan. Jumlah ojek online meningkat berkali-kali lipat, dana investasi masuk deras, antrian mendaftar menjadi peng-ojek mengular dimana-mana, sangat cepat pertumbuhannya hingga salah satu pemainnya saja mengklaim sudah memiliki ratusan ribu ojek di seluruh Indonesia hanya dalam waktu beberapa tahun. Mereka yang tadinya minoritas di jalan-jalan sekarang seakan “menguasai” jalanan. Coba lihat saja dari atas gedung kantor, jalanan Jakarta mana yang tidak dilintasi ojek-ojek berwarna hijau (beberapa hitam) ini. Mereka yang tadinya ditekan sedemikian rupa, ternyata sekarang menjadi besar.

Sekarang siapa opang yang berani bilang ojek online ini”sesat” sehingga harus disingkirkan?

“Sesat” itu kalau sedikit, kalau mereka jadi banyak ya kamu yang “sesat”.

Advertisements

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mencoba Menjawab “Siapa yang sesat?” dari Kacamata Penumpang Ojek Online at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: