[CERPEN] Kaum Terkutuk

July 14, 2016 § Leave a comment

20 tahun yang lalu, perang akhir pun usai sudah. Waktu itu, milyaran orang mati memaksakan ide-ide dan kepentingan-kepentingan mereka atas satu sama lain. Entah apa maksudnya. Aku begini karena tahu bahwa tak ada guna ideku dipaksakan jika aku akhirnya mati. Jadi aku memilih diam, menonton mereka saling bunuh, saling tikam. Tapi di hati kecil ini, aku masih berharap bukan mereka mereka yang menang. Ya begitu, di perang akhir kaumku kalah. Aku pengecut. Lengkap sudah. Semoga kelak aku nanti mati dalam keadaan damai.

Dunia dibawah kekuasaan kaum pembunuh Tuhan berubah begitu cepat, hampir-hampir tak dapat aku mengikuti. Seingatku dulu aku masih mengetik menggunakan laptop keluaran Taiwan yang terkenal itu. Masih ingat tidak? Akupun ragu apakah masih mengingat seperti apa bentuknya. Saat ini, semua orang memiliki komputer tambahan di dalam otaknya masing. Mengetik? Huh, itu kuno. Hanya dengan berpikir saja kami sudah bisa membuat ratusan kata tersimpan di memori. Mau kirim data? Tinggal pikirkan saja, otomatis terkirim. Semuanya serba dipikir. Jemari ini tak begitu lagi berguna. Mati saja.

Ya kaum itu. Kaum terkutuk. Mereka percaya bahwa mereka bisa menjadi Tuhan atas hidup mereka sendiri. Mereka percaya peradaban akan berkembang lebih cepat jika Tuhan tidak ada. Mereka percaya bahwa aku menghabiskan waktuku percuma untuk bersujud sembah. Mereka percaya kalau aku dan kaumku hanya akan menghambat kemajuan. Cukup sudah. Mereka memang kaum terkutuk. Berani betul menantang Tuhan. Kemenangan mereka bukti bahwa Tuhan sedang meninabobokan mereka dan kegelisahan kaumku bukti bahwa Tuhan nanti akan memberikan kehidupan indah di surga kelak. Rasakan itu kaum terkutuk!

Oia, namaku Erik. Usiaku 50 tahun. Aku memiliki 1 orang anak dan 1 orang cucu. Anakku, Sinta, sudah menikah dengan seorang pemuda dari Antartika, Dendrik namanya. Dendrik anak baik. Ia adalah anak dari kawan dekatku. Satu kaum denganku.

“Kakek! Kakek! Kakek!”, Pesan suara masuk ke kepalaku. Buyar sudah. Siapa ini? Oh, si cucu. Rinta namanya.

“Kakek baru selesai masak sup. Kamu mau?”, Tanyaku. “Mau kek, aku mauuuuu”, Balas Rinta riang. “Ya sudah kemari sekarang. Ajak ibumu!”.

Dalam sekejap, Sinta dan Rinta sudah ada di depanku. Hahahaha teknologi ini memang luar biasa. Tersungkur sudah perusahaan transportasi olehnya. Perjalanan beratus kilometer dari Antartika ke Jawa hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 1 menit.

“Ayo mari kalian berdua. Makanlah. Makan sampai kenyang”.

Kami makan bersama diawali dengan doa. Aku memimpin doa. Sempat aku melirik sedikit sebelum aku selesai merapal. Mereka tidak berdoa. Astaga! Jangan-jangan virus kaum terkutuk itu telah merasuk ke kepala mereka.

“Kapan kamu keluar dari perusahaanmu sekarang, Sinta?”, Tanyaku menyelidiki.

“Entahlah Pa, aku sudah mulai betah di perusahaan bekerjaku sekarang.”

“Tapi, bukankah kamu tahu bahwa tempat perusahaanmu bekerja adalah salah satu sponsor musuh kita? Mereka telah membunuh teman-teman papa”, Aku mencoba menekan.

“Musuh kita, Pa? Bukan, itu bukan musuh kita. Itu musuh papa. Entahlah meskipun aku bingung apakah pantas mereka disebut musuh sedangkan papa sendiri tidak pernah berjuang. Mereka musuh pikiran papa”, Tegas Sinta. Suasana meja makan menjadi tegang. Rinta meringkuk di bawah ketiak ibunya. Takut.

“Apa maksudmu!?”, Aku menghardik.

“Disana mereka bekerja demi dunia yang lebih baik. Teknologi diciptakan. Penyakit dimusnahkan. Kita bisa hidup dengan lebih mudah saat ini karena perjuangan mereka. Apa yang salah dari mereka, Pa?”

“Yang salah dari mereka adalah karena mereka membunuh Tuhan. Ingat itu!”

“Lalu apa yang papa dan kaum papa lakukan untuk dunia selain merapal mantera? Mengharap panen berhasil padahal tanah tidak lagi subur, dan pupuk yang mereka gunakan tidak lagi mampu menumbuhkan makanan”, Sinta ikut meninggi. Aku kaget sesaat tersungkur. Jantungku oh begitu sakit. Gelap kemudian. Mati aku.

Di dalam kegelapan begitu pekat hingga aku sendiri tidak dapat melihat kedua tanganku, seseorang membisik, “Kamu bodoh”. Ah sial, ternyata Tuhan sendiripun telah memihak musuh-musuhku.

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [CERPEN] Kaum Terkutuk at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: