Undur diri

October 9, 2015 § Leave a comment

“Jika ini sudah terlalu ramai, kenapa mereka takut dengan sepi?”, Jakarta, Di tengah keramaian.

Dunia ini terlalu banyak “noise”. Mengundurkan diri sejenak bahkan sekarang jadi barang mahal. Dibayar dengan harga kekhawatiran “besok mau makan apa? besok mau selfie dimana?”. Semua soal kekhawatiran.

Sesekali iseng berbisik kepada bayi-bayi yang baru saja lahir, “Kamu sudah mantap mau hidup?”. Lalu bayi-bayi itupun tertawa, lalu menangis. Hahahahahahaha lucu rasanya. Mereka yang sudah berjuang mati-matian untuk menjadi hidup, menjadi manusia, malah ditanya pertanyaan seperti itu ya sudah barang tentu mereka menangis.

Lalu timbul sebuah pertanyaan kembali. Apakah memang disana begitu sepi sehingga mereka berjuang mencari ramainya dunia ini?. Dan, sejatinya apakah ketika kita mengundurkan diri sejenak, kita sedang kembali ke masa-masa dimana kita masih berada di rumah asal?

Rindu.

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Undur diri at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: