[Sebuah analogi] Ini mobilku. Mana mobilmu?

June 20, 2015 § Leave a comment

“Wuih, panasnya siang ini. Mungkin ini salah satu hal  yang membuat mereka manusia disana begitu panas hatinya, kepalanya”, di sebuah tower, Jakarta 20 Juni 2015.

Manusia itu terkadang sulit dimengerti. Sebagai contoh, mereka saling berkelahi, saling menghujat, dan bahkan saling membinasakan satu sama lain atas hal yang tidak masuk akal. Si A menghantam si B. Si C menghantam si A karena si A menghantam si B lebih dulu. Si D, teman si A, menghantam si C. Polanya seperti itu saja, terus tidak berhenti.

Tapi apa apa saja motifnya? Banyak. Mari kita bahas salah satu saja. Soal “mobil”. Banyak pertikaian terjadi karena mobil. Si A bilang mobilnya lebih bagus ketimbang mobil si B. Menurut klaim si A, mobil ini bisa berjalan 300 Km/jam, sehingga bisa menghantar si A ke tempat yang dia mau lebih cepat dari si B. Menurut klaim si A, mobil si B ini tidak jelas bentuknya, lambat, dan bisa membuat tersesat karena tidak dilengkapi dengan GPS. Lagi-lagi menurut klalim si A, jika diadu maka mobilnya lah yang akan menang karena cocok disegala medan.

Darimana si A tahu banyak soal mobilnya? Dari brosur, dari buku panduan tim marketing.

Bagaimana si A tahu kalau mobil si B lebih buruk dari mobilnya? Klaim. Semua orang bisa klaim, bukan? Tentu saja belum tentu (atau bahkan tidak sama sekali) bukti mengikuti.

Si B yang panas karena tidak diterima mobilnya dihina oleh si A balas mengeluarkan argumen kalau mobilnya lah yang paling baik, paling bagus bahkan tidak hanya jika dibandingkan dengan mobil si A. Mobilnya, menurut si  B, bisa berjalan di atas air bahkan terbang ke bulan menembus atmosfer. Mobil si A, menurut klaim si B, hanya bisa digunakan di jalan namun tidak bisa digunakan untuk terbang menembus kemacetan Jakarta. “Tidak ada gunanya cepat kalau ternyata jalanan macet. Mau jalan lewat mana?”, Begitu kilah si B.

Darimana si B tahu banyak soal mobilnya? Dari brosur, dari buku panduan tim marketing.

Bagaimana si B tahu kalau mobil si A lebih buruk dari mobilnya? Lagi-lagi ini perkara soal klaim.

Perdebatan semakin panas hingga salah satu dari mereka memukul terlebih dahulu. Perkelahian tak dapat terelakan. Seru seperti film “Deru Debu” atau “7 Manusia Harimau”. Saling pukul, saling tangkis, saling tendang, dan ehem saling menghujat. Tiba datang belakangan si C dan D. Masing-masing tanpa tahu duduk persoalannya terlibat dalam baku hantam, saling membela temannya masing-masing. Lengkap sudah.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam berlalu. Perkelahian tak kunjung usai.

Kemudian si E yang sedari tadi memperhatikan mereka berkelahi dengan polosnya bertanya, “LALU DIMANA MOBIL KALIAN MASING-MASING SEBAB AKU TIDAK MELIHATNYA ADA DI GARASI, PUN AKU TIDAK MELIHAT KALIAN PERNAH MENGENDARAINYA? Tunjukan padaku, aku ingin melihatnya”. Mendapat pertanyaan tersebut, Si A, Si B, Si C, dan Si D diam sejenak. Berpikir. Pusing. Kemudian marah karena mengganggap si E melecehkan mereka. Mereka pikir si E ini tidak percaya dengan apa yang mereka katakan dan perjuangkan.

Si E lari bersembunyi. Mereka masih terus berkelahi.

Ini mobilku. Mana mobilmu? Terdengar seantero dunia.

Advertisements

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Sebuah analogi] Ini mobilku. Mana mobilmu? at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: