Melihat Secara Utuh

March 2, 2014 § 3 Comments

Saya masih ingat betul peristiwa itu. Saya masih seorang mahasiswa waktu itu. Di kelas mata kuliah RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) seorang dosen sedang memberikan gambaran kepada kami bagaimana merancang sebuah sistem.

Dia mengambil sebuah buku tanpa mengatakan sepatah katapun kepada pemiliknya. Saya hanya tertawa kecil dan menganggap kata “pinjam” tidak lagi penting untuk sebuah urusan yang jauh lebih mendesak, pengetahuan.

Dia mengangkat buku itu, tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk dilihat oleh keseluruhan penghuni kelas. Kemudian dia menurunkan buku tersebut, memegangnya sama tinggi dengan rata-rata kepala mahasiswa ketika duduk.

Dia bertanya, “apakah ini?”.

Kami menjawab serentak dengan yakin bahwa itu pastilah sebuah buku. Pikiran nakal saya mulai lagi, “Hey pak kami tidak bodoh untuk diberikan pertanyaan seperti itu!!!”

Dia bertanya kepada 2 orang mahasiswa di sisi kiri dan kanan buku tersebut untuk menjelaskan apa itu sebuah buku dari sudut pandang penglihatan masing-masing. Mahasiswa pertama berkata bahwa buku adalah gambar “sansan wawa” di atas sebuah kertas sedangkan menurut mahasiswa kedua buku adalah nama dari perusahaan pencetak buku tersebut.

Kami semua manggut-manggut seakan mengerti tapi yang jelas saya sendiri sudah mulai paham apa yang “manusia” ini ingin sampaikan. Apakah kedua mahasiswa tadi salah? Tentu saja tidak. Mereka mendeskripsikan buku seperti apa yang mereka lihat dan mereka melakukannya dengan baik.

Secara utuh mereka jelas kurang tepat karena tidak menempatkan orang lain untuk melihat di sisi lainnya atau bahkan menambahkan beberapa orang lagi untuk melihat sisi atas dan sisi bawah buku tersebut.

Hmm, sejenak saya berpikir. Gambaran ini bukan hanya soal bagaimana cara tepat menggambarkan sebuah sistem tapi juga bagaimana para manusia bertindak dari apa yang mereka pikirkan. Pada intinya, jika kita melihat hanya dari satu sisi kita tidak akan pernah mendapatkan gambaran utuh dari peristiwa. Ambil perspektif berbeda dan rangkai itu menjadi definisi sekalipun ada ribuan puzzle menanti untuk disusun.

Itu menurut saya. Bagaimana menurut anda?

Advertisements

Tagged: , ,

§ 3 Responses to Melihat Secara Utuh

  • Orang yang kaya adalah orang yang mampu melihat banyak sisi ketika ia menanggapi segala sesuatu.

  • Ryan Sanjaya says:

    Saya mungkin tidak akan melihat satu hal dari segala sisi, karena rasanya akan melelahkan, memakan waktu, dan membatasi kesempatan untuk lihat lebih banyak hal. Namun setidaknya pemahaman tentang perspektif ini cukup mendorong saya untuk bersikap terbuka terhadap “kebenaran” lain yang tidak kita lihat. Ketika saya tidak menjadi fanatik terhadap suatu hal dan menihilkan “kebenaran” lain, rasa-rasanya saat ini sudah cukup buat saya.

    Salam kenal, mas. Mohon ijin mengikuti tulisan-tulisan reflektifmu :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Melihat Secara Utuh at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: