Siap Menghadapi Kegagalan

February 17, 2014 § Leave a comment

Cobalah sesekali bertanya kepada kawan-kawan Anda, “Apakah kita benar-benar satu tim?” Mungkin mereka akan serentak menjawab, “Tentu saja, ya.” Seseorang barangkali berkata, “Itu sih tidak usah diragukan lagi.” Namun jujurkah jawaban itu?

Kegagalan, bukan keberhasilan, yang akan membuktikan apakah jawaban tersebut dapat dijadikan pegangan atau sekedar pemanis bibir. Ketika seluruh anggota tim merasa senasib sepenanggungan, ucapan mereka tadi memang jujur. Tapi jika mereka saling menuding, menimpakan kesalahan, menggerutu, atau membicarakan ketua tim sebagai salah mengambil keputusan, ucapan tadi tidak lebih dari pemanis bibir.

Sebaliknya, tatkala keberhasilan dicapai, semua anggota tim tampak kompak. Tim seolah-olah menjadi senyawa baru. Anggota yang mungkin sedikit kontribusinya terhadap kerja tim akan merasa bahwa ini keberhasilannya pula. Jadi ia merasa patut merayakan kesuksesan bersama.

Respons yang bertolak belakang ini dapat ditelusuri akarnya pada cara kita menghadapi kegagalan. Kita kerap menganggap kegagalan bagaikan dunia mau kiamat. “Habis sudah!” begitu pikir kita sembari membayangkan tim akan dimarahi “big boss”, yang berarti tidak mendapat credit point, dan ujung-ujungnya tidak akan memperoleh bonus.

Dunia kiamat? Tidak, apabila kita memperlakukan kegagalan dengan cara yang lebih manusiawi. Dan sebenarnyalah, gagal itu manusiawi. Lantaran itu, sebagai tim kita seyogyanya membiasakan diri berbagi kegagalan, bukan hanya berbagi keberhasilan. Sejumlah pakar manajemen menyebutkan bahwa lebih banyak hal dapat dipelajari dari kegagalan dibandingkan yang dapat dipetik dari keberhasilan.

Dengan menanggungkan kegagalan secara bersama-sama, kita berbagi beban. Kerjasama tim yang sudah merekat tidak akan renggang dikarenakan saling menimpakan kesalahan. Perbaikan atas kegagalan atau kesalahan dapat dilakukan dengan jauh lebih baik. Mengubah kebiasaan menuju budaya berbagi kegagalan ini memang tidak mudah, tapi satu langkah permulaan sudah cukup baik. Manajemen harus berani mengakui bahwa kegagalan adalah hasil (result) yang sama biasanya dengan keberhasilan.

Kultur berbagi kegagalan juga akan membuat anggota tim tidak takut mengambil risiko. Tentu saja, risiko yang terkalkulasi. Sebab, tanpa keberanian mengambil risiko, tim dan orang-orang di dalamnya akan berjalan di tempat. Dan keberanian mereka patut diapresiasi. Bukankah kita kerap menyaksikan pemimpin yang berujar, “Kita harus berani mengambil risiko!” tapi kemudian meninggalkan gelanggang tatkala gagal?

Dari kegagalan, kita bisa belajar tentang batas-batas kemampuan tim untuk saat ini. Dengan demikian, risiko dapat dikalkulasi apakah kegagalan akan mampu ditanggungkan atau tidak. Bila kapabilitas sudah meningkat, tim boleh mengambil risiko yang lebih besar, sebab, biasanya, di balik risiko yang besar terdapat peluang yang besar pula.

Jadi, mulailah berbagi kegagalan sebagaimana Anda bersama tim berbagi keberhasilan. Ketimbang berusaha keras menghindari kegagalan, lebih baik Anda membangun kultur agar tim dan organisasi siap menghadapi kegagalan

Disadur dari : http://blog.tempointeraktif.com/uncategorized/berani-mengakui-kegagalan/

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Siap Menghadapi Kegagalan at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: