Argumentum ad Populum

November 26, 2013 § 13 Comments

Ah menarik membahas yang satu ini. Kenapa? Pertama, karena saya baru saja membaca buku yang membahas soal ini. Kedua, karena perspektif soal ini begitu banyak diterapkan di lingkungan sekitar kita. Ketiga, karena saya tidak ingin apa yang saya tahu orang lain tidak tahu.

Kita terbiasa membenarkan suatu klaim karena jumlah orang yang mendukungnya. Hal yang sepertinya lumrah-lumrah saja. Proposisi argumentum ad populum diketahui berbentuk: “X adalah benar jika banyak orang meyakini X”. Padahal, kita tahu bahwa kenyataannya belum tentu demikian.

Fakta bahwa sebuah merek mobil tertentu banyak disukai orang bukan alasan bahwa mobil tersebut lebih baik ketimbang mobil lainnya. Sama halnya dengan seorang politisi yang populer. Popularitas politisi tersebut tidak berarti dia lebih berkualitas dibanding politisi lainnya. Kedua contoh diatas menunjukkan betapa popularitas tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan sebuah klaim.

Ada banyak kejadian atau peristiwa yang jelas terjadi di depan kita menggunakan proposisi yang sama. Sebagai contoh, banyak orang masuk ke jalur “busway” dengan anggapan dalam keadaaan darurat macet dan banyak orang yang melakukan hal tersebut. Atau kita bisa menggunakan contoh yang masih hangat di dunia saat ini, PENYADAPAN. Banyak orang bilang bahwa penyadapan adalah hal yang wajar (selama tidak ketahuan hehe) karena semua negara melakukannya. Dengan proposisi yang sama, justru negara yang tidak melakukannya dianggap bodoh. Contoh diatas juga merupakan contoh-contoh dari sesat pikir seperti ini.

Saya tidak tahu apakah pola pikir seperti ini erat hubungannya dengan manusia yang bersifat komunal. Satu maju, maka yang lainnya merasa aman kalau ikut maju bersama-sama tanpa melihat lebih jauh apakah yang kita lakukan sudah benar, tidak melanggar hukum, dan tidak melanggar etika. Memang peraturan pun dibuat sesuai dengan konsensus yang ada tetapi tetap pasti juga melihat dampak ke depan juga melihat apakah peraturan tersebut justru malah melanggar hak orang lain.

Argumentum ad populum ini juga ditemukan di ranah kepercayaan masyarakat tapi ah sudahlah saya tidak mau membahasnya lebih jauh. Selama otot masih mendominasi di negeri ini ketimbang pikiran,  tentunya saya tidak bisa bebas.

Semoga pola pikir seperti ini tidak berlama-lama singgah di negeri ini.

Advertisements

Tagged: ,

§ 13 Responses to Argumentum ad Populum

  • Katakanlah ada lima orang berdiri berjajar. Empat orang terbalik, kaki mereka menyentuh atap. Sedangkan satu orang saja yang kakinya menyentuh lantai. Yang mana yang benar? Yang empat orangkah? Atau yang satukah? Dari sini saya percaya, bahwa kebenaran itu ada. Dan kebenaran ada di atas sekedar kebaikan. Salam.

  • Hanya orang biasa yg nyoba ngomong =P says:

    Menurut saya, kebenaran itu tidak mutlak. Km bisa nge-klaim klo org2 kebalik yg dicontohkan Kiky itu benar atau salah dari mana? Tentu org2 itu sendiri akan mengatakan kalau mereka yg benar.
    Asalkan alasan kita melakukan atau membuat sesuatu itu “logis”, maka kebenaran pasti bisa diterima org lain.

    • Hanya orang biasa yg nyoba ngomong =P says:

      Oya, dgn catatan, org2 lain itu jg “mampu dan mau” berpikir logis.

    • Sumoaji says:

      Sebenernya poinnya ada di sesat pikir. Banyak orang menganggap oh kalo semua orang melakukannya maka itu pasti benar. Nah, disitu yang mau dikritisi dari tulisan ini. Benar ato salah tidak tergantung dari jumlah populasi.

  • Jika demikian, Sumoaji berpendapat bahwa ada kebenaran yang mutlak, dong?

    Kalau yang saya percaya, kebenaran itu ada. Dan mutlak.

  • Sudah terlalu lama kita hidup dalam relativisme.

  • Masuk lagi ke pembahasan saya yang pertama dong. Baiklah. Saya gunakan lagi bahasa yang lebih jelas barangkali.

    Katakanlah ada lima orang. Empat orang kakinya menyentuh atap, kepalanya di bawah. Satu orang kakinya menyentuh lantai, kepalanya di atas. Ini bukan masalah empat orang lebih banyak, lalu mereka dibilang benar. Namun yang akan disebut dengan benar berdiri adalah yang satu orang saja. Meski ia adalah minoritas.

    Dari sini saya simpulkan, kebenaran itu mutlak – tidak relatif. Karena pada kenyataannya yang berdiri hanya satu orang. Dan kebenaran itu tidak terikat pada jumlah – mayoritas dan minoritas. Kebenaran adalah kebenaran itu sendiri.

    • Sumoaji says:

      Memang seharusnya yang namanya kebenaran itu mutlak karena ia ibarat pagar, memberikan batas mana yang boleh dan mana yang tidak. Pernah dengar istilah “berbohong untuk kebaikan”? Kalau kita pakai kacamata kebenaran mutlak, jelas ini salah. Yang namanya bohong ya salah, apapun alasannya.

  • Eh, kalau saya tidak balas lagi itu tandanya saya sudah tidur ya. Sudah pulul 23.00. Esok saya harus mengajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Argumentum ad Populum at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: