Terima kasih 2.0

November 18, 2013 § 2 Comments

Suatu kali ketika saya sedang menunggu pesanan di salah satu penjaja makanan di Jakarta, saya mengamati bahwa ada beberapa orang pembeli yang tidak lupa mengucapkan “terima kasih” kepada si penjual. Saya tidak merasa aneh ketika si penjual yang mengucapkannya kepada pembeli, tetapi ini si pembeli mengucapkan “terima kasih” kepada penjual. Bukankah seharusnya cukup si penjual saja yang mengucapkan karena memang mereka mendapatkan uang dari si pembeli. Makanan yang dijajakan laku dijual dan mereka (si penjual) mendapatkan uang, kenapa juga si pembeli menyatakan rasa terima kasih? Mereka yang membeli tidak mendapatkan itu dengan gratis, mereka harus menukarkannya dengan uang. Ini aneh!

Saya sering melihat banyak orang Indonesia melakukan hal mubazir. Mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan. Mereka hanya membuang energi dan tidak mendapatkan apapun. Dalam hal ini, saya merasa mengucapkan rasa terima kasih juga termasuk dalam hal tersebut. Walaupun energi yang dibuang tidak seberapa, tetapi dari skala kecil seperti ini saja sudah terbayang gambaran kebudayaan masyarakat kita. Dan, bagaimana jika kegiatan/tindakan ini dilakukan di skala yang besar?

Kemudian seperti biasa, saya mencoba melihat dari sisi lain untuk membuktikan apakah ada yang salah dari premis saya. Saya mencoba memposisikan diri sebagai si pembeli (yang aneh) tersebut. Saya bayangkan hal yang paling ekstrem, SAYA PUNYA UANG 1 MILYAR RUPIAH. Ya, sekarang saya adalah seseorang yang memiliki uang 1 milyar Rupiah. Bagaimana jadinya?

Saya merasa lapar. Dengan kendaraan mewah, saya berkeliling mencari makanan kesukaan. Tak masalah jika saya harus membayar 2 atau 3 kali lipat lebih mahal, saya kan orang kaya hehehehe. Setelah berputar-putar agak lama, akhirnya saya menemukan makanan kesukaan saya. Saya duduk. Saya pesan. Pesanan saya datang. Saya makan. Saya kenyang. Saya bayar. Saya pulang. Tidak perlu lah mengucapkan terima kasih. Uang saya sudah mengatakan semuanya hehehe. 

Sampai sini tidak ada yang salah di pernyataan awal saya.

Ah saya tidak puas. Mari kita ciptakan kondisi lain. Saya belum yakin premis saya benar.

Saya merasa lapar. Dengan kendaraan mewah, saya berkeliling mencari makanan kesukaan. Tak masalah jika saya harus membayar 2 atau 3 kali lipat lebih mahal, saya kan orang kaya hehehehe. Setelah berputar-putar agak lama, saya tidak menemukan satupun penjual di jarak yang cukup dekat dari rumah. Kalaupun ada penjual (dan itu jauh), mereka tidak mau menjual dagangannya kepada saya.

Lalu, buat apa saya memiliki uang 1 milyar jika tidak ada yang bisa saya beli?

Aha!!! Disanalah intinya. Sebanyak apapun uang anda, tapi jika tidak ada yang bisa anda beli, buat apa? Tidak ada gunanya itu semua. Disitulah saya sebagai pembeli merasa mereka berjasa telah menyediakan dan mau menjualnya kepada saya. Di titik itulah alasan kenapa saya harus mengucapkan terima kasih kepada mereka para penjual.

Saya tidak bisa hidup sendiri.

 

Advertisements

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to Terima kasih 2.0

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Terima kasih 2.0 at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: