Menyembah pohon dan mata air

November 13, 2013 § 2 Comments

Mereka bilang pada saya suatu ketika, “Jangan seperti mereka. Mereka itu menyembah pohon dan mata air”. Logika saya langsung jalan, masakah iya kita menyembah pohon dan mata air. Saya memang belum pernah melihat Tuhan (dan saya yakin mereka yang berkata kepada saya pun sama) tapi menyembah pohon dan mata air itu tidak masuk diakal. Pohon dan mata air adalah pemberian alam untuk kita, dan sama seperti ketika ibu saya memberikan hadiah mobil-mobilan untuk saya bermain, saya tidak perlu (bahkan tidak mungkin) menyembah mobil pemberian ibu saya. Itu logika yang aneh.

Seketika saya yakin. Saya yakin kalau para penyembah pohon dan mata air itu salah, aneh, dan tidak masuk diakal. Melakukan sesuatu yang tidak berguna. Tidak ada tujuannya. Tidak penting.

Eh, nanti dulu. Kenapa saya begitu mudahnya menghakimi seseorang (bahkan ini suatu kaum) tanpa saya tahu betul kenapa mereka melakukan hal itu. Saya baru saja berlaku tidak adil bahkan sejak dalam pikiran. Jika saya tidak adil sejak dalam pikiran, bagaimana mungkin saya berharap bisa berlaku adil kepada semua makhluk? Saya harus adil. Saya harus tahu sudut pandang dari mereka si pelaku.

Kalaupun mereka seakan menyembah pohon dan mata air, mereka melakukan sesuatu untuk menjaga sumber kehidupan. Mereka merawat karena mereka sadar jika pohon dan mata air itu tiada, tiadalah juga mereka. Ini yang saya tangkap dari mereka. Saya melihat sesuatu yang nyata, bukan delusi.

Mereka para penyembah pohon dan mata air itu sama seperti saya, kamu, kita semua. Tidak ada satupun dari kita yang pernah melihat (selama kita di dunia) sang Pencipta. Manusia hakikatnya merasa ada kekuatan besar yang mengatur semesta. Salah dua dari banyak tanda kebesaran alam adalah pohon dan mata air. Tidak ada pohon dan mata air kita mati. Tidak ada kehidupan. Satu hal yang saya dapat dari filosofi mereka adalah ini adalah wujud terima kasih. Mereka tidak bohong kalau mereka tidak bisa melihat sang Pencipta tetapi dari pohon  dan mata air itulah mereka melihat gambaran begitu besarnya kekuatan sang Pencipta.

Dan saya, atau mungkin kalian hanya bisa memanjatkan doa entah kepada siapa. Terlalu sibuk sehingga lupa untuk berterima kasih kepada wujud yang paling nyata, jelas-jelas ada di depan mata.

Mereka mengajarkan banyak hal.

Realistis.

Advertisements

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to Menyembah pohon dan mata air

  • Hanya orang biasa yg nyoba ngomong =P says:

    Yg satu ini, agak bersifat privasi menurutku. But, I’ve been thinking about it for a long time. Intinya, untuk apa kita berkoar-koar CINTA ALLAH kalau sikap kita ke ciptaan-Nya (dlm hal ini: pohon dan mata air. Dlm kamus pribadi saya: org2 di sekitar kita, tanah di tepian jalan, air sungai, dll.) semena-mena?

    Tapi ngomong2 soal “ciptaan”, mungkin lbh tepat kalo saya menyebutnya “pengejawantahan”, atau “perwujudan”, “jelmaan”, karena saya yakin Tuhan itu hadir dlm wujud2 itu. Jadi, berbuat baiklah dan “jangan buang sampah sembarangan” karena itu ibadah kita. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyembah pohon dan mata air at Sumo Aji.

meta

%d bloggers like this: