Argumentum ad Populum

November 26, 2013 § 13 Comments

Ah menarik membahas yang satu ini. Kenapa? Pertama, karena saya baru saja membaca buku yang membahas soal ini. Kedua, karena perspektif soal ini begitu banyak diterapkan di lingkungan sekitar kita. Ketiga, karena saya tidak ingin apa yang saya tahu orang lain tidak tahu.

Kita terbiasa membenarkan suatu klaim karena jumlah orang yang mendukungnya. Hal yang sepertinya lumrah-lumrah saja. Proposisi argumentum ad populum diketahui berbentuk: “X adalah benar jika banyak orang meyakini X”. Padahal, kita tahu bahwa kenyataannya belum tentu demikian.

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Masa kini dan nanti

November 25, 2013 § 6 Comments

Baru saja aku menjejakkan kaki pagi itu. Kehidupan rasa-rasanya tidak pernah berhenti di tempat ini. Sekalipun, huh bau menusuk sampah dan entah mungkin ada bangkai manusia disana menusuk hidungku. Supir angkot berebut penumpang. Seorang ibu menggandeng anak. Nelayan memperbaiki kapal. Manusia melakukan aktifitasnya seperti biasa. Entah, apa mereka sudah tidak peduli atau sudah terlalu biasa. Sepertinya bau ini tidak mengganggu mereka.

« Read the rest of this entry »

Terima kasih 2.0

November 18, 2013 § 2 Comments

Suatu kali ketika saya sedang menunggu pesanan di salah satu penjaja makanan di Jakarta, saya mengamati bahwa ada beberapa orang pembeli yang tidak lupa mengucapkan “terima kasih” kepada si penjual. Saya tidak merasa aneh ketika si penjual yang mengucapkannya kepada pembeli, tetapi ini si pembeli mengucapkan “terima kasih” kepada penjual. Bukankah seharusnya cukup si penjual saja yang mengucapkan karena memang mereka mendapatkan uang dari si pembeli. Makanan yang dijajakan laku dijual dan mereka (si penjual) mendapatkan uang, kenapa juga si pembeli menyatakan rasa terima kasih? Mereka yang membeli tidak mendapatkan itu dengan gratis, mereka harus menukarkannya dengan uang. Ini aneh!

« Read the rest of this entry »

Menyembah pohon dan mata air

November 13, 2013 § 2 Comments

Mereka bilang pada saya suatu ketika, “Jangan seperti mereka. Mereka itu menyembah pohon dan mata air”. Logika saya langsung jalan, masakah iya kita menyembah pohon dan mata air. Saya memang belum pernah melihat Tuhan (dan saya yakin mereka yang berkata kepada saya pun sama) tapi menyembah pohon dan mata air itu tidak masuk diakal. Pohon dan mata air adalah pemberian alam untuk kita, dan sama seperti ketika ibu saya memberikan hadiah mobil-mobilan untuk saya bermain, saya tidak perlu (bahkan tidak mungkin) menyembah mobil pemberian ibu saya. Itu logika yang aneh.

Seketika saya yakin. Saya yakin kalau para penyembah pohon dan mata air itu salah, aneh, dan tidak masuk diakal. Melakukan sesuatu yang tidak berguna. Tidak ada tujuannya. Tidak penting.

« Read the rest of this entry »

Membangun Kepercayaan Diri

November 8, 2013 § 2 Comments

Saya termasuk orang yang percaya akan kekuatan kepercayaan diri. Jika anda percaya akan satu hal yang kamu yakin suatu saat akan anda dapatkan, anda akan dapat. Kepercayaan diri menurut saya adalah salah satu modal, bisa dibilang malah ini adalah pondasinya. Ibarat pepatah di dunia persilatan, “Keberanian tanpa keahlian itu bodoh tapi keahlian tanpa keberanian itu percuma, bagaikan pedang di dalam sarung”, nah seperti itulah. Kepercayaan diri tanpa keahlian itu bodoh tetapi keahlian tanpa kepercayaan diri itu percuma. Siapa yang bisa anda percayai kalau dengan diri sendiri saja anda tidak percaya kalau anda bisa?

« Read the rest of this entry »

Tidak mati, bel…

November 2, 2013 § Leave a comment

Tidak mati, belum tentu “hidup”.

Antara 1/2 dan 1/4

November 2, 2013 § 2 Comments

Pernah belajar bagaimana cara menjumlahkan 1/2 dan 1/4?

Untuk melakukan penjumlahan 1/2 dan 1/4, salah satu atau malah keduanya harus mengalah. Mengalah ke angka yang besar tapi bernilai sama. Jika 1/2 mengalah, maka dia harus merubah dirinya ke 2/4 baru kemudian dijumlahkan dengan 1/4. Kalau keduanya mengalah, keduanya harus merubah ke angka yang sama, 1/2 menjadi 4/8 dan 1/4 menjadi 2/8. Itu suatu keharusan jika memang keduanya perlu untuk saling menambahkan.

Nah, jika angka harus begitu maka seharusnya begitupun dengan manusia. Tidak ada yang bisa saling menambahkan tanpa ada salah satu atau keduanya mengalah ke perspektif lawan bicara atau perspektif yang disepakati.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2013 at Sumo Aji.