Antara si Polos, si Baik, dan si Jahat

June 18, 2017 § Leave a comment

Menurut anda, berita mana yang lebih menarik. Seorang rakus yang melakukan korupsi atau seorang yang dalam kesehariannya terlihat baik-baik saja, bahkan nampak relijius, menjadi terdakwa kasus korupsi? Sebagian besar pasti menyatakan berita nomor dua lebih menarik.

Di linimasa kita berseliweran hal-hal seperti ini. Suatu kontradiksi tentu lebih menarik ketimbang sesuatu yang common sense. Jika dia memang rakus, apalagi penjahat, ya wajar saja suatu saat dia akan melakukan kejahatan tetapi jika dia seseorang yang saleh tentu menjadi menarik jika sampai melakukan hal bertentangan.

Respon dari informasi tersebut bermacam-macam. Tetapi yang menarik adalah kesimpulannya. Terlepas dari apakah si orang “baik” ini memang melakukan kejahatan atau tidak, jika masyarakat sampai pada kesimpulan bahwa menjadi relijius dengan segala atributnya menjadi tidak berguna tentu ini merepotkan orang-orang yang memang sungguh dengan kerelijiusitasannya hendak menyampaikan cara hidup yang baik.

Lalu bagaimana agar kita tidak terjebak dengan kesimpulan seperti itu tetapi sekaligus juga tetap kritis?

« Read the rest of this entry »

Kematian Mendorong Ketergesaan

June 10, 2017 § Leave a comment

Masa lalu tidak berubah. Masa depan siapa yang tahu. Satu-satunya kepastian di masa depan adalah kematian. Kematian, tanpa kepastian kapan, mendorong ketergesaan, “Kalau bisa sekarang, kenapa harus esok?” Lalu kita berlomba mengejar di sisa waktu. Dimana perlombaan ini menggerakan kehidupan.

Lalu bagaimana jika kematian itu sendiri dapat dielakkan?

Bayangkan dunia dimana semua orang tahu bahwa kematian itu tidak akan pernah terjadi. Tidak ada dorongan ketergesaan, “Jika besok pasti ada, kenapa harus dikerjakan sekarang?” Lalu ada masa dimana semua makhluk hidup berhenti sama sekali.

Kematian, tanpa kepastian kapan, menjadi penting.

Bekerja di Perusahaan Rintisan / Start Up

June 2, 2017 § Leave a comment

Saya tidak tahu persis apa padanan kata yang tepat untuk menjelaskan Start Up dengan Bahasa Indonesia. Banyak definisi di luar sana menjabarkan apa itu perusahaan start up. Mulai dari perusahaan yang tumbuh sangat cepat, perusahaan yang mendewakan pertumbuhan (growth), perusahaan teknologi dengan sekumpulan anak muda sebagai pendiri, dan definisi-definisi lain. Tapi akhirnya saya memilih untuk menggunakan kata “Perusahaan Rintisan”. Anda boleh setuju, boleh juga tidak. Tidak jadi soal. Saya pribadi menganggap perusahaan Start Up adalah perusahaan yang baru saja merintis. Merintis usaha, menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat.

Di pertengahan tahun 2016 saya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu perusahaan rintisan besar di bidang internet. Warna dominannya hijau, hijau muda. Iklannya ada dimana-mana : di televisi, di baliho-baliho pinggir jalan protokol, bahkan mungkin sampai di iklan jeda video Youtube yang sedang anda tonton. Dengan pergerakan semasif ini, dengan dukungan dana sebesar ini, dengan pengunjung dan penjual sebanyak ini tentulah banyak orang yang menaruh kepercayaan. “Perusahaan ini pasti sungguh mengagumkan”, Pikir saya waktu itu.

Setelah melewati beberapa tahapan, saya akhirnya mendapat panggilan wawancara di kantor pusat di sebuah gedung di daerah Jakarta Barat. 5 tahun pengalaman saya bekerja sebelumnya, baru kali ini saya melihat kantor dengan interior yang seperti ini. Ruang-ruang kaca transparan untuk meeting, lantai dengan rumput sintetik seperti di lapangan futsal, batu-batu koral berjejer layaknya kebun bermain, ruang tunggu yang tidak simetris, dinding berisi kutipan-kutipan dari orang-orang berpengaruh dengan latar belakang warna dinding yang tidak itu-itu saja. “Wow, this is gonna be awesome”, I thought. First impression level 100.

« Read the rest of this entry »

Terbakar Karena Berita

May 22, 2017 § Leave a comment

Untuk meliput kejadian kemudian membuatnya menjadi berita tentu ada harganya. Ada personil yang terjun ke lapangan mencari narasumber, ada bagian yang menyunting kata-kata, hingga orang-orang yang mencetak berita tersebut ke media cetak.

Memiliki media cetak dengan jaringan yang luas juga membutuhkan biaya besar. Ada alat-alat produksi terlibat disana pun dengan jejaring logistik bekerja setiap hari mengantar berita-berita tersebut ke agen-agen penjualan hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca.

Betul bahwa media pada waktu itu tidak sepenuhnya menggantungkan pendapatan dari oplah. Ada pendapatan dari iklan dan lain-lain disana. Tapi, kali ini bukan itu yang dibahas.

« Read the rest of this entry »

Kita Dipaksa Beradaptasi

May 14, 2017 § Leave a comment

Kata orang, dunia pasti berubah. Dan malam ini saya melihat pertigaan yang biasa dipenuhi jejeran tukang becak, diisi oleh jejeran abang ojek online.

***

Ratusan tahun lalu, ketika kereta api pertama kali diperkenalkan di Inggris. Banyak masyarakat pada waktu itu mengganggap kendaraan revolusioner ini sebagai “Kereta Setan”. Entah kenapa, mungkin karena waktu itu warna dominan kereta adalah warna hitam dengan asap yang mengepul dan hitam pula. Pun juga karena Kereta-kereta kuda yang mendominasi moda transportasi perpindahan barang darat pada waktu itu perlahan tergusur. Dominasi mereka pada akhirnya makin tergeser setelah muncul kereta tanpa kuda lainnya, mobil.

« Read the rest of this entry »

Karena yang ada itu hanya “Rest in Peace”

May 14, 2017 § Leave a comment

“Ji, kenapa hidup ini tidak pernah damai?”, Tanya seorang kawan pada suatu hari. Iya, bener juga ya. Dalam sejarahnya, hidup di dunia ini mana pernah total damai. Dari hal yang paling kecil, rebutan tulang KFC misalnya, sampai hal yang besar seperti perang antar negara.

“Ya karena memang dari awalnya sudah dikondisikan seperti itu”.

“Maksud elu?”.

« Read the rest of this entry »

Dongeng tentang Indonesia?

April 27, 2017 § Leave a comment

“Jika ini dongeng, berarti dia tidak lagi ada”, Indonesia 2017

Dahulu kala ada sebuah negeri bernama Indonesia. Tanahnya subur menghasilkan beragam hasil bumi yang dicari banyak orang. Kudengar bahkan ada pedagang yang rela datang dari negeri nun jauh di sebelah barat sana. Lautnya? Hmm, tenang. Begitu tenang hingga kau tak perlu khawatir perahumu dirajam ombak. Ah semuanya bagai surga, apalagi jika kau sempat tengok senyum gadis-gadisnya, aduhai manisnya. Tak menjadi soal lagi apakah surga itu nanti ada setelah mati.

Coba kau lihat di peta. Perhatikan betapa luas wilayahnya. Kau ini terbang 3 jam di Eropa sana sudah berkali-kali kau lintasi garis batas, tapi disana di negeri itu, 3 jam kau terbang masih saja kau disana. Alamak luasnya! Butuh berapa tahun kau habiskan untuk coba mengunjungi setiap pulau yang ada? Butuh berapa generasi kau lihat untuk mempelajari setiap bahasa daerahnya?

« Read the rest of this entry »