Kenapa berbohong itu dosa?

June 19, 2018 § Leave a comment

definisi bohong

Definisi bohong menurut KBBI

Definisi berbohong. Intinya adalah menyampaikan sesuatu tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya. Menambah atau mengurangi pesan (meskipun sedikit) juga masuk ke dalam definisi ini.
Di berbagai ajaran agama, perilaku ini sungguh dikecam. Kenapa? Simpelnya, karena Tuhan tidak suka. Titik. Tapi begini, kali ini kita tidak bicara hal yang simpel. Kita bikin rumit LOL.
***
Apa yang kita rasakan jika berkali-kali dibohongi oleh seseorang, katakanlah “X”. Kecewa? Yes. Dan, jika si X ini tiba-tiba suatu hari datang ke rumah dan berkata bahwa dia punya ide besar untuk mengirim manusia pergi menjelajah planet-planet di luar galaksi Bima Sakti, maukah kita menginvestasikan dana kepadanya?
Tidak.
Tetapi bagaimana jika apa yang dikatakan si X ini adalah hal yang sungguh benar akan berhasil dan dengan percobaan ini akan membawa umat manusia ke level kehidupan yang lebih tinggi dari peradaban saat ini?
Kita saat itu belum tahu.
***
Mendapatkan kepercayaan dari manusia lain menjadi penting. Dan, tidak berbohong adalah salah satu caranya.
Bayangkan jika kita hidup di lingkungan sosial di mana setiap individu selalu menaruh curiga dengan individu yang lain. Jangankan pergi ke luar angkasa, patungan untuk membetulkan jalan gang saja mungkin sulitnya setengah mati. Akhirnya komunitas itu tidak ke mana-mana, hanya jalan di tempat.
Nah, sekarang bayangkan jika sampai milyaran manusia ini terjebak di komunitas semacam itu.
Advertisements

Apel dan Perdebatan Tidak Berujung

April 13, 2018 § Leave a comment

X: Saya punya apel.

Y: Dimana? Coba tunjukkan.

X: Anda tidak percaya kalau saya punya apel? Coba buktikan kalau saya tidak punya apel!

Y: Apel apa sih? Saya tidak lihat anda punya apel.

X: Sekarang anda bilang kalau apel saya fiktif. Anda benar-benar keterlaluan.

Sekarang tau kan kenapa debat soal apel ini tidak berguna, tidak berujung?

Ojek Online dan Pengambilan Keputusan

April 13, 2018 § Leave a comment

Pagi biasa. Saya turun di salah satu stasiun di daerah Jakarta Pusat. Sebagai kaum pinggiran yang setiap hari harus pergi dan pulang ke pusat kota, Commuter Line (dulu kita sebut KRL) adalah moda transportasi paling efektif dan efisien.
 
Keluar dari stasiun; jejeran bajaj dan ojek-ojek online menunggu rezeki dari para penumpang. Para penumpang sibuk dengan gawai mereka, menunggu kabar gembira, datangnya abang ojek.
 
Telpon berdering. “Halo, pak. Ini saya dari ojek. Bapak posisi di mana?”
 
“Saya di depan stasiun, Pak.”, Saya menyahut.
 
“Oke tunggu, Pak. Saya otw ke sana.”
 
Beberapa menit kemudian si Bapak tiba. Dengan segera saya menyadari keberadaannya dengan mencocokan nomor polisi di motor dengan yang tertera di aplikasi. Si Bapak dengan sigap memberikan helm.
 
“Mau pakai masker, Mas?”
 
“Oh, tidak perlu. Simpan saja, Pak. Kita langsung jalan.”
 
“Ini lokasinya sesuai aplikasi?”
 
“Iya”, Jawab saya kemudian menjelaskan dengan rinci jalan mana yang harus kita lewati agar terhindar dari kepadatan lalu lintas.
 
Mendekati perempatan pertama, terlihat lampu lalu lintas berwarna hijau. “Wah, bagus. Semoga lampu-lampu lainnya hijau juga”, Saya berbicara dalam hati. Tetapi tidak disangka si Bapak malah mengendurkan kecepatan. Sampai tepat di perempatan, lampu sudah kuning lalu merah. Dan, kami berhenti.
 
Lampu kembali hijau. Motor kembali melaju. Dengan kecepatan seperti ini saya yakin akan tiba di kantor 2 kali lebih lambat dari pada biasanya. Ya, sudah.
 
Perempatan kedua terlihat. Hijau lagi! Ayo, jalan terus pak. Tetapi lagi-lagi si Bapak mengurangi kecepatan. Sampai di perempatan, kami harus berhenti. Lampu lalu lintas tidak menunggu kami lewat. Merah.
 
Di perempatan ketiga, nasib saya tidak berubah. Si bapak lagi-lagi justru mengurangi kecepatan ketika lampu dari jauh sudah terlihat hijau.
 
Saya menjadi yakin bapak ini bukan datang dari bumi. Saat pengendara lain memacu semakin cepat saat melihat lampu kuning mulai menyala, si Bapak ini malah memelankan kendaraannya saat lampu masih hijau.
 
Karena saya tidak ingin kejadian yang sama terulang di kesempatan berikutnya, saya memberanikan diri bertanya langsung, “Pak, kenapa makin pelan pas lampu masih hijau?”
 
Si Bapak diam.
 
“Nanti kalau di lampu merah, langsung jalan aja ya pak kalau masih hijau. Ga perlu nunggu-nunggu lagi”, Saya melanjutkan.
 
“Iya, Mas maaf sekali. Dulu saya pernah lihat kecelakaan persis di depan saya. Lampu masih hijau tapi dari arah lain ada mobil nabrak motor di depan saya. Gara-gara itu saya jadi takut kalau lewat lampu merah”
 
Degh. Kaget mendengar penjelasan si Bapak. Kaget juga ternyata sebegitu besar efek trauma terhadap keputusan-keputusan yang diambil seseorang di masa depan.
 
“Ouh, iya Pak. Ya, sudah kita jalannya hati-hati saja ya.”

Perjalanan Kita

February 23, 2018 § Leave a comment

2013 akhir. Awal masa saling mengenal.

“Apa mimpi-mimpimu yang belum tercapai?”, Tanyaku pada suatu malam.

“Mimpiku? Banyak”.

“Katakan! Satu hal yang paling penting menurutmu”, Desakku.

Kamu terdiam. Berpikir. Nampak keraguan muncul dari raut wajahmu. Aku tak berani mendesak, memilih diam. Sampai beberapa minggu kemudian perbincangan ini tidak lagi berlanjut. Kita lupa.

***

2014 awal. Awal masa aku diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh.

“Aku pernah ingin sekali mendapatkan beasiswa. Mendapatkan kesempatan mengenal budaya lain sekaligus belajar. Adikku pun pernah bilang kalau sebenarnya aku mampu”.

Aku tak ingat bagaimana responku terhadap kata-katamu waktu itu. Yang aku ingat adalah beberapa saat setelah itu aku mengajakmu melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kamu mau, dengan beberapa persyaratan.

Aku setuju.

***

2015 menjelang akhir. Sudah ada cincin melingkar di jari manismu, begitupun di jariku, jari yang sama.

“Kenapa tidak kamu kejar apa yang kamu cita-citakan?”, Aku mencoba membuka pembicaraan.

“Apa aku bisa?”

“Tentu saja.”

“Bagaimana?”

“Kita rencanakan!”

Kamu mengangguk manis. Aku mencoba menjelaskan rencana kita ke depan. Setahun, dua tahun, tiga tahun, sepanjang yang kita bisa bayangkan.

***

Pertengahan 2016. Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aku dan teman-teman terdekat mengantar keberangkatanmu.

“Jaga diri baik-baik. 6 bulan lagi aku berkunjung ke sana. Tidak perlu menangis.”

Tetapi, kamu tetap menangis.

Aku tidak. Setidaknya tidak terlihat menangis. Sulit rasanya melepas ini semua, meski hanya sementara.

Bapak dan Ibu mendidik anak-anaknya untuk menghormati keinginan seseorang meraih pendidikan setinggi-tingginya. Perempuan dan laki-laki, sama saja. Dengan alasan yang sama, aku terpaksa melepasmu kali ini.

***

2016 – 2017. Kamu di sana, aku di sini. Aku menikmati matahari lebih cepat 7 jam daripada kamu. Masa tersulit. Tapi buat apa orang lain tahu?

“Kita simpan masalah kita sendiri”, Begitu katamu.

***

2017 akhir. Bandara yang sama.

Aku memelukmu. Menggenggam tanganmu begitu erat. Aku bahkan lupa mengucapkan selamat datang kembali.

“Bisa?”

“Bisa apa, Mas?”

“Jadikan ini yang terakhir.”

***

2018 awal. Hari belum mulai benar.

“Now, you are truly a father!”, Katamu. No, I am not. Not yet.

“Yes, you will.”

“Really?”

“100%”, Kamu mencoba meyakinkan.

2 garis.

***

Ayo dek, kita lanjutkan cerita perjalanan ini.

 

Dikabulkan, Ditunda, atau Diganti dengan yang lebih baik

November 21, 2017 § Leave a comment

Kali ini ada sebuah benda di  hadapan kita. Benda itu sebegitu besar, utuh pula. Bentuknya? Bukan kotak, bukan bundar, bukan segitiga, bukan segilima, bukan seperti yang kalian bayangkan sebelumnya. Belum ada definisi yang pas untuk benda di hadapan kita ini selain umm besar, ya besar saja, itu cukup. Lalu, kita mendongak ke atas dan takjub. Begitu besarnya benda ini, begitu megah.

Dan, kamu mulai berlari mengelilingi dia. Kamu bilang, benda ini bukan benda biasa. Mungkin juga benda ini tidak berasal dari bumi. Oh ya, tentu saja, selalu ada kemungkinan. Kemungkinan semakin luas saat kita tidak tahu apa-apa bukan? Saat tak ada asumsi pertama.

Kamu tertawa begitu riang. Tak ada wajah lelah meski sudah beberapa kali kamu berlari memutar. Aku pun ikut senang, meski tak berminat melakukan hal yang sama.

***

Tok-tok suara ide dari kepala. Bagaimana jika kamu memohon sesuatu kepada benda ini? Oh, oke, aku tau. Kamu pasti menolak. Tapi begini, dengarkan dulu penjelasanku. Aku berani menjamin jika segala sesuatunya pasti berakhir baik jika kamu mau mencoba. Bagaimana? Mau, kan?

Memintalah sesuatu kepada benda ini, tak ada salahnya mencoba. Kamu pun pernah memohon, bukan? Nah, lakukan hal yang sama. Mintalah semisal seorang jodoh yang baik untukmu, seseorang yang akan menjadi pendamping hidupmu kelak. Setuju? Oke, kamu setuju. Silahkan.

***

Kenapa dengan raut mukamu? Oh, kamu mulai meragukan ini semua. Tak perlu risau. Memintalah maka kamu pasti akan diberi. Bagaimana jika tidak diberikan? Begitu katamu, kan? Segala sesuatunya pasti sudah direncanakan, tunggu saja, nanti juga diberi. Seandainya pun tidak diberi pastilah permohonanmu tidak ditolak melainkan akan diganti dengan skenario lebih indah. Benda ini tidak mungkin salah.

Ah, akhirnya kamu tenang. Tak lagi ada kata protes. Aku pun ikut lega.

***

Bagaimana jika ternyata benda ini hanya benda biasa? Tak apa, tak masalah, sepertinya kita bisa cari benda yang lain. Umm, kita bisa pakai semisal garpu. Ya! Garpu!

Sama magisnya? Itu tanyamu, bukan? Sama! Lalu, apa yang membuat garpu ini begitu hebat? Ya, dia bisa mengabulkan permintaanmu jika memang tepat waktunya, menundanya jika memang dirasa belum saatnya, dan dia juga bisa mengabulkan yang lain yang lebih baik.

Selalu begitu?

Iya.

Kue Pancong

November 11, 2017 § Leave a comment

Ada kue pancong di atas meja. Sialnya, kita sudah tahu sebelumnya bagaimana proses membuat kue pancong. Dan dari pengetahuan awal tersebut, makin cepatlah kita mengambil kesimpulan kalau seseorang telah membuat kue pancong tersebut.

Lalu aku dan kamu berargumentasi tentang siapa yang meng-ada-kan kue pancong tersebut. Apakah ibu? Apakah dia? Apakah si mbak yang membelinya dari pasar?

Aku dan kamu berdebat. Menurutku, ibu lah yang membuat kue tersebut. Kenapa? Ya, karena si ibu dulu pernah mengatakan kepadaku tentang bagaimana kue pancong dibuat.

Sedangkan kamu, iya kamu, beranggapan bahwa si mbak lah yang membelinya dari bapak penjual di pasar. Kenapa? Karena si mbak pernah bercerita tentang adanya penjual kue pancong di pasar, di sana.

***

Lalu adik keluar kamar. Terhuyung perlahan menuju meja. Dengan sigap mengambil kue pancong. Melahap. Mengunyah semuanya tanpa dosa.

Aku dan kamu tidak lagi ribut tentang siapa aktor di balik kue pancong. Masalah kita sepertinya selesai.

“Tapi Dek, kue pancong itu nampaknya enak. Mari kita cari bersama, berdua. Siapa yang membuat tak lagi jadi soal”

***

Menyingkap tabir mengenai per-kue-an pancong tidak pernah semenarik ini. Beginilah hidup, eh kue pancong, maksud saya.

Pada Akhirnya, Hanya itu

October 30, 2017 § Leave a comment

Kita memilih pasangan dengan kualitas-kualitas yang terikat oleh waktu. Dia suka A karena cantik (waktu itu), tetapi apakah si A akan tetap sama cantiknya 20 tahun kemudian? Begitupun dengan si B, memilih si X akibat terpukau dengan ketenangannya menghadapi berbagai persoalan (waktu itu), tetapi bagaimana jika si X menjadi begitu emosional, menjadi pemarah, karena tekanan ekonomi?

Ukuran kualitas-kualitas baik pun terikat masa. Pada jamannya, di Tiongkok, perempuan dianggap cantik jika memiliki kaki berukuran kecil. Orang tua berlomba-lomba membebat kaki si anak demi mengejar tingkatan tersebut. Begitu pun untuk pria di masa lampau. Siapa yang akan memilih pria lemah yang tak mampu membawa pulang babi hutan untuk makan?

Ada satu waktu di mana pasangan anda akan bertanya, “Kenapa kamu memilihku? Kenapa bukan yang lain?”.

“Aku memilihmu karena kamu adalah yang terbaik di antara pilihan-pilihan tersedia (waktu itu), dengan parameter-parameter kualitas yang dianggap unggul (waktu itu)”, Balas sang kekasih. Jawaban terbaik, menurut saya.

“Berarti tidak selamanya kamu akan bersamaku?”

“Apa yang abadi?”

“Di dunia ini?”

“Apalagi itu. Tentu saja. Sejatinya yang kita lakukan sekarang seperti berkomitmen terhadap pilihan terpilih. Tidak ada jaminan. Kamu takut?”

“Jelas!”

“Begitupun aku. Siapa yang menjamin kamu tidak melakukan itu lebih dulu?”

“Mengkhianatimu? Tidak mungkin!”

“Nah! Akhirnya kita temukan alasan utama kenapa kita masih di sini, berdua, sekarang.”

“Hanya itu?”

“Pada akhirnya, hanya itu.”